Babbel Sindir Argentina: Gelar Juara Bakal Jadi Aib Jika Direbut Lewat Cara Kotor
Maya Anggraini · 22 Juli 2026 pukul 07.40 · Sumber: Detik

Kekalahan Argentina di partai puncak Piala Dunia 2026 masih terus menuai sorotan. Salah satu suara paling lantang datang dari Markus Babbel, mantan pemain Liverpool, Bayern Munich, sekaligus Timnas Jerman, yang menilai justru menjadi kabar baik bahwa Spanyol keluar sebagai pemenang.
Di laga final yang digelar di New Jersey pada Minggu (19/7), Albiceleste harus mengakui ketangguhan La Furia Roja dengan skor tipis 0-1. Anak asuh Lionel Scaloni tampil di bawah ekspektasi dan kesulitan meredam permainan agresif Spanyol, bahkan gagal menghasilkan peluang berbahaya ke gawang lawan.
Gol semata wayang lahir dari kaki pemain pengganti Ferran Torres. Penggawa Barcelona itu tampil sebagai penentu kemenangan lewat golnya di masa perpanjangan waktu, sekaligus mengantar Spanyol meraih trofi juara dunia untuk kali kedua dalam sejarah mereka.
Bukan hanya soal hasil di lapangan, Argentina juga dihujani kritik lantaran perilaku mereka setelah pertandingan usai. Sejumlah pemain terlibat aksi kasar yang memicu keributan antarpemain kedua kubu, sebuah insiden yang kini tengah dalam penyelidikan FIFA.
Babbel sendiri mengaku sempat mengagumi perjalanan Argentina sepanjang turnamen. Menurutnya, tim Tango kerap menunjukkan mentalitas luar biasa dan mampu bangkit dari berbagai situasi genting hingga melaju ke final.
"Akan jadi sebuah skandal seandainya Argentina bisa menang tipis atau dengan cara yang tidak layak," ujar Babbel kepada Ran, seperti dilansir Marca.
"Mereka tadinya memberi saya banyak kegembiraan dalam waktu yang lama karena mereka selalu menunjukkan mental yang sensasional. Rasanya mereka akan tersingkir di tiga pertandingan, tapi mereka mampu mencapai final karena semangat dan semangat bertanding. Saya salut dengan mereka untuk itu," lanjutnya.
Meski begitu, Babbel menyayangkan penampilan Argentina di partai final. "Namun, di final, sayang sekali, mereka tidak menonjol karena kualitas sepakbolanya -- yang pastinya mereka miliki -- melainkan aksi kasar yang berlebihan dan terutama aksi tidak sportif seakan tidak tahu bagaimana menerima kekalahan setelah pertandingan," tegasnya.





