Badai di Tynecastle: Bisakah Hearts Bangkit dari Puing-Puing Musim Panas yang Menyakitkan?
Bagus Wardana · 21 Juli 2026 pukul 15.37 · Sumber: The Bbc

Ada yang namanya jatuh ke bumi dengan keras, lalu ada pengalaman menyakitkan yang dirasakan para pendukung Hearts sejak 16 Mei. Gagal meraih gelar liga pertama dalam 60 tahun ketika musim tersisa beberapa saat saja sudah cukup pahit. Namun keadaan justru bertambah buruk saat klub seolah dibongkar habis oleh Rangers. Kapten, pelatih kepala, hingga sang bintang, semuanya pergi, dalam urutan itu.
Tak lama kemudian, seharusnya menjadi awal baru bagi klub. Wouter Vrancken hadir sebagai pelatih kepala, sebuah langkah yang tampak seperti tangkapan besar dari daratan Eropa. Namun dalam laga perdananya pada Selasa, Hearts justru dihajar 4-0 oleh Sturm Graz, dan segala harapan melangkah lebih jauh di Liga Champions pun sirna secepat kilat.
Lalu, adakah alasan untuk tetap optimistis jika kita menelisik statistik mendasar dari laga perdana pelatih asal Belgia tersebut? Bagaimanapun, data semacam itu adalah keahlian utama Jamestown Analytics.
Musim panas ini menjadi periode penuh kehilangan, kesedihan, sekaligus kelahiran kembali di Tynecastle. Semua berawal hanya sepekan setelah kekalahan 3-1 dari Celtic yang akan terus menghantui selama bertahun-tahun, sebagaimana mereka yang mengingat tahun 1986 bisa ceritakan. Hearts nyaris tak mungkin kehilangan tiga figur yang lebih berpengaruh dari musim sebelumnya, dan setiap kepergian terasa lebih menyakitkan dari yang sebelumnya.
Yang pertama pergi adalah kapten sekaligus pencetak gol terbanyak, Lawrence Shankland. "Setidaknya kita dapat uang transfer," mungkin begitu pikir sebagian orang yang optimistis. Sayangnya, tidak sama sekali. Sebuah klausul dalam kontrak tiga tahunnya, yang baru diteken musim panas sebelumnya, memungkinkannya pergi secara cuma-cuma.
Kemudian, tepat ketika Skotlandia hendak memulai kampanye Piala Dunia pertama mereka dalam hampir tiga dekade, muncul kabar bahwa pelatih kepala Derek McInnes juga menuju Ibrox. Yah, keduanya memang penggemar Rangers sejak kecil. Mungkin hal itu memang bisa diprediksi. Tapi kabar buruk selalu datang tiga sekaligus, bukan?
Bisik-bisik di media sosial menyebut sang bintang favorit fans, Cammy Devlin, hampir menandatangani kontrak baru di Gorgie. Sebuah pernyataan tajam dari akun resmi klub di X sempat menepis kemungkinan hengkangnya. Namun 24 jam kemudian, ia justru terlihat mengangkat jersey biru royal sambil tersenyum lebar di depan kamera. Jika era Hearts tertinggal dari Old Firm di liga sudah berlalu, era mereka dijarah oleh dua raksasa Glasgow itu belum berakhir.
Bahkan sebelum Devlin pergi, pelatih kepala baru sudah menjabat. Proses penunjukan Vrancken berlangsung cepat dan tanda-tanda awalnya menjanjikan. Ia adalah sosok yang pernah dinobatkan sebagai pelatih terbaik Belgia, membawa Racing Genk hanya beberapa menit dari gelar juara, serta sempat dikaitkan dengan Anderlecht dan Burnley.
Selain CV yang mengkilap, gaya bermainnya di Belgia juga menjadi sorotan. Tidak sepenuhnya disebut menyerang total, tetapi jelas merupakan gaya sepak bola yang ingin dilihat para pendukung. Menjelaskan taktiknya dalam sebuah forum suporter, sang pelatih menyatakan ingin menciptakan "kekacauan dalam sebuah struktur".
Di laga perdananya, yang terlihat lebih banyak adalah kekacauan, bukan struktur. Namun skor 4-0 terasa tidak benar-benar mencerminkan jalannya pertandingan. Statistik serangan menunjukkan Hearts sama sekali tidak tertinggal dari tuan rumah asal Austria itu. Mereka menciptakan dua peluang di babak pertama yang seharusnya berbuah gol, tetapi Pierre Landry Kabore melepaskan tembakan tepat ke arah kiper, dan Alexandros Kyziridis menyodok bolanya melebar saat berada dalam situasi satu lawan satu.
Saat mereka mulai bisa menciptakan peluang berikutnya, kedudukan sudah tertinggal 4-0. Tidak efisien dalam menyerang, tercabik-cabik di lini belakang. Sebuah awal yang mimpi buruk.
"Kesan awal menunjukkan Hearts memiliki pelatih kepala yang sangat bagus," ujar editor Hearts Standard, Joel Sked, dalam sebuah Scottish Football Podcast baru-baru ini. "Namun pada saat yang sama, dengan segala yang telah terjadi, harus ada kesabaran."
Kesabaran adalah barang langka di sepak bola masa kini. Untuk setiap Ange Postecoglou, ada seorang Wilfried Nancy. Untuk setiap Jens Berthel Askou, ada seorang Russell Martin. Terlalu dini menentukan Vrancken akan masuk ke kubu yang mana, tetapi sebagian besar pendukung Hearts tetap optimistis dengan hati-hati. Mereka telah melalui segalanya dalam dua bulan terakhir. Tidak ada lagi yang bisa mengejutkan mereka. Bahkan hasil ini sekalipun.





