Banyana Banyana di Ujung Tanduk: Mimpi Piala Dunia 2027 Mulai Menjauh
Bintang Maulana · 28 Juli 2026 pukul 08.35 · Sumber: Espn United Kingdom

Selama satu dekade menakhodai Banyana Banyana, Desiree Ellis kerap berada dalam situasi terjepit. Namun, tak pernah tekanan itu terasa sepekat sekarang, tepat setelah timnya takluk 2-1 dari Tanzania pada Senin lalu di laga pembuka Piala Afrika Wanita (WAFCON) di Casablanca.
Sepanjang sebagian besar babak pertama, Afrika Selatan dibuat frustrasi oleh pertahanan Tanzania yang ngotot. Kiper Najiat Abbas tampil gemilang dengan beberapa penyelamatan penting, meski sesekali terlihat rapuh saat menghadapi bola-bola atas. Twiga Stars justru unggul lebih dulu lewat serangan balik Diana Msewa pada menit ke-37. Bambanani Mbane sempat menyamakan kedudukan di masa injury time babak pertama, tetapi Hasnath Ubamba memastikan kemenangan Tanzania tiga menit menjelang bubaran—hasil dari periode ketika mereka tampil lebih padu ketimbang lawan yang di atas kertas lebih mentereng.
Di masa keemasannya, Banyana kerap menjadi tim underdog yang bermain melampaui ekspektasi. Kini, sejumlah pemain kunci yang dulu menopang keberhasilan itu telah pensiun tanpa pengganti sepadan, sementara sisanya belum kembali ke performa terbaik. Membenahi kampanye WAFCON yang lesu ini, sekaligus mengejar posisi empat besar untuk lolos ke Piala Dunia Wanita FIFA, menjadi tantangan tak biasa bahkan bagi pelatih sekaliber Ellis yang telah melewati banyak badai.
Para pemain saat ini umumnya berhati-hati saat menyinggung soal pemilihan skuad. Sebaliknya, mantan penyerang Banyana sekaligus rekan lama Ellis, Portia Modise, lebih vokal melontarkan kritik dalam beberapa kesempatan. Ellis sendiri biasanya membiarkan hasil berbicara, dan sudah beberapa kali membawa timnya bangkit dari keterpurukan.
Kegagalan lolos ke Olimpiade Tokyo usai kalah adu penalti dari Botswana pada 2019 dijawab dengan gemilang: Banyana menjuarai WAFCON 2022 dan menembus 16 besar Piala Dunia Wanita 2023, meski dibayangi ketegangan antara skuad dan federasi sepak bola Afrika Selatan. Kesuksesan 2022 bahkan membuat para pengkritik terpedasnya memuji Ellis—namun kala itu ia diperkuat delapan pemain yang berkarier di luar negeri. Sekarang, hanya empat yang tersisa, dan musim HollywoodBets Super League pun dimulai dua bulan lebih lambat dari jadwal seharusnya tahun ini.
Beberapa bulan terakhir, penampilan Banyana naik-turun. Pada Juni, mereka menjalani dua laga melawan Jepang: satu berakhir bencana dengan kekalahan 5-0, satu lagi kemenangan mengesankan 1-0. Satu masalah yang terus membayangi adalah minimnya daya gedor. Gol ke gawang Jepang pun lahir dari sepak pojok, dan absennya peran Jermaine Seoposenwe—yang baru pensiun—dalam menghubungkan serangan sangat terasa. Setelah bertahun-tahun didera cedera, Thembi Kgatlana tampak tak lagi seeksplosif dulu, meski masih menunjukkan kilasan kualitasnya saat kalah dari Tanzania.
Pertahanan Banyana yang biasanya solid terlalu mudah dibongkar lewat serangan balik pada Senin lalu. Yang paling mengkhawatirkan, kepercayaan diri yang mereka miliki empat tahun silam kini seolah lenyap, baik di lini serang maupun bertahan. Magis dari kejayaan 2022 telah memudar, dan Banyana kini dihadapkan pada pilihan sulit: mengulang formula lama atau memberi kesempatan generasi baru di tengah tekanan yang sudah menumpuk.
Penyerang sayap Nthabiseng Majiya (22) adalah salah satu pemain muda yang mendapat kepercayaan besar dari Ellis dalam tiga laga terakhir. Namun, ia belum mampu membuktikan diri siap mengisi peran Seoposenwe. Kenyataannya, tampaknya belum ada pemain di skuad saat ini yang benar-benar siap memikul tugas itu.
Empat tim teratas WAFCON akan lolos langsung ke Piala Dunia 2027, sementara dua tim tambahan dari playoff perempat finalis yang kalah bakal maju ke playoff antarkonfederasi. Jika Banyana kembali menelan kekalahan dari Pantai Gading pada 31 Juli, maka jalan menuju turnamen di Brasil akan menjadi sangat terjal. Namun andai harus tersingkir, Ellis setidaknya harus memastikan Afrika Selatan pergi dengan keberanian dan semangat pantang menyerah seperti tujuh tahun pertama kepemimpinannya—bukan sekadar menjadi kenangan yang kian jauh.





