LayarSkor
Olahraga

Bukan Sekadar Absen: Kekecewaan Ceferin pada FIFA di Balik Boikot Final Piala Dunia 2026

Andika Saputra · 20 Juli 2026 pukul 18.40 · Sumber: Detik

Bukan Sekadar Absen: Kekecewaan Ceferin pada FIFA di Balik Boikot Final Piala Dunia 2026

Ketegangan antara dua institusi sepakbola paling berpengaruh di dunia kembali mencuat. Presiden UEFA Aleksander Ceferin secara mengejutkan absen dari partai puncak Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Spanyol dan Argentina di New Jersey Stadium, Senin (20/7) dini hari WIB. Menurut laporan The Times, ketidakhadiran itu bukan kebetulan, melainkan bentuk protes terhadap FIFA.

Menariknya, Ceferin sebenarnya masih menyempatkan hadir pada seremoni pembukaan turnamen di Mexico City, Meksiko. Namun sejumlah persoalan membuatnya memilih menjauh dari acara terpenting Piala Dunia. Kekecewaan pemimpin sepakbola Eropa ini menumpuk, mulai dari pelanggaran aturan hingga apa yang ia anggap sebagai lunturnya integritas badan sepakbola dunia tersebut.

Salah satu pemicu utama adalah kasus kartu merah Folarin Balogun. FIFA menangguhkan sanksi bagi striker Amerika Serikat itu sehingga tetap bisa tampil pada babak 16 besar. Yang membuat UEFA berang, muncul dugaan intervensi dari Gedung Putih di bawah pemerintahan Donald Trump untuk membatalkan hukuman tersebut. FIFA sendiri berdalih keputusan itu murni diambil oleh panel independen melalui Komite Disiplin. UEFA langsung merespons dengan pernyataan keras, menuding FIFA telah melewati batas dan menodai integritas sepakbola.

Gesekan tak berhenti di situ. UEFA menilai FIFA kehilangan wibawa di hadapan tuan rumah Amerika Serikat, terutama menyangkut kebijakan imigrasi. Ketika wasit asal Somalia, Omar Artan, ditolak bertugas, UEFA justru menunjukkan sikap berbeda dengan menunjuknya memimpin laga Piala Super Eropa antara Paris Saint-Germain melawan Aston Villa pada Agustus mendatang.

Masalah teknis pertandingan turut menambah daftar keluhan. Penerapan jeda minum atau hydration break membuat laga seolah terbagi menjadi empat kuarter, sebuah kebijakan yang dinilai mengganggu ritme permainan demi keuntungan finansial dari iklan. Bahkan jeda pertandingan di partai final yang mencapai hampir setengah jam dianggap menyalahi aturan, mengingat waktu istirahat semestinya maksimal 15 menit.

Persoalan harga tiket juga menjadi sorotan. UEFA menilai kebijakan kenaikan harga dinamis membuat tarif tiket melambung tinggi dan menyulitkan penggemar untuk menyaksikan langsung. Sebagai pembanding, UEFA menegaskan tiket Euro 2028 nanti akan tetap terjangkau di kisaran 30-60 paun tanpa menerapkan skema harga dinamis ala FIFA. UEFA bahkan disebut menolak mentah-mentah gagasan Presiden FIFA Gianni Infantino untuk memperluas peserta Piala Dunia 2030 menjadi 64 tim.

Di tengah semua polemik itu, gelaran final tetap berlangsung meriah dan dimenangkan Spanyol. La Furia Roja, yang juga menjadi juara Euro 2024, menaklukkan Argentina dengan skor 1-0 lewat gol emas Ferran Torres pada menit ke-113. Kemenangan ini mengantarkan Tim Matador meraih trofi juara dunia kedua sepanjang sejarah mereka.

Rekomendasi

Berita Bola Lainnya

Semua berita →