Kekerasan Rumah Tangga Melonjak ke Rekor Tertinggi di Inggris Selama Piala Dunia 2026
Ardian Nugroho · 23 Juli 2026 pukul 08.49 · Sumber: Sky Sports

Piala Dunia 2026 meninggalkan catatan kelam bagi Inggris. Alih-alih hanya dikenang lewat euforia dukungan suporter, turnamen kali ini justru memicu lonjakan laporan kekerasan rumah tangga hingga menyentuh angka tertinggi dalam sejarah.
Berdasarkan data yang dirilis, tercatat 384 insiden kekerasan dalam rumah tangga selama gelaran berlangsung. Angka itu setara dengan 17 persen dari total 2.322 insiden yang dilaporkan. Yang lebih mengkhawatirkan, sebanyak 93 persen kasus terjadi di sekitar waktu pertandingan tim nasional Inggris. Hanya Euro 2020 (yang digelar pada 2021) yang mencatat jumlah lebih tinggi dari ini.
Kepala Kepolisian Mark Roberts, yang menjabat sebagai Pemimpin Nasional Kepolisian Sepak Bola di Inggris, menyoroti alkohol sebagai biang keladi utama. "Sebagian besar insiden yang kami temukan berkaitan dengan alkohol, dan itu benar-benar menjadi keprihatinan," ujarnya kepada Sky Sports News. Ia menambahkan bahwa peningkatan kekerasan rumah tangga maupun insiden di sekitar tempat penjualan minuman berlisensi menjadi pola yang terus terlihat di berbagai turnamen.
Roberts secara khusus menyoroti keputusan memperpanjang jam operasional tempat berlisensi hanya 48 jam sebelum laga Meksiko melawan Inggris. Menurutnya, kebijakan mendadak itu membuat kepolisian kesulitan mengatur ulang penempatan personel. "Kami sudah tahu jadwal pertandingan sejak Desember. Memetakan rute dan titik-titik rawan bukan hal sulit," katanya. "Namun ketika aturan lisensi diperpanjang pada Jumat menjelang laga hari Minggu, kami tidak punya kesempatan untuk mengatur ulang jadwal petugas."
Ia menegaskan sudah menyampaikan keberatan kepada pemerintah. "Sistem yang ada sudah memadai. Kami punya banyak pemberitahuan sebelum pertandingan, jadi seharusnya tetap pada sistem itu. Kalau sebuah pertandingan sudah diketahui bakal berlangsung sejak tujuh bulan sebelumnya, kita harus bisa lebih baik ketimbang mengubah aturan hanya 48 jam sebelum laga," tandasnya.
Di ranah digital, kejahatan kebencian daring juga mencatat angka tinggi dengan 293 insiden—terbanyak kedua setelah Euro 2020 yang menyentuh 393 kasus. Polisi menerima 750 rujukan terkait pertandingan Inggris, seluruhnya ditinjau, dan 293 di antaranya memenuhi ambang batas hukum untuk dikategorikan sebagai kejahatan kebencian dan penuntutan. Meski analisis masih berjalan, polisi meyakini sebagian besar berasal dari luar Inggris.
"Sebagian konten ini menjijikkan dan tidak pantas, tetapi tidak memenuhi ambang batas hukum meski sangat ofensif. Kami akan mengidentifikasi mana yang memenuhi syarat hukum," jelas Roberts. Ia mencontohkan keberhasilan penuntutan pelaku pelecehan terhadap Jess Carter pada Euro Wanita. "Prosesnya berjalan. Kesulitannya muncul jika pelaku berada di luar negeri, karena kami bergantung pada penegak hukum asing. Tidak ada negara lain yang menangani ini seserius kami."
Seluruh data Piala Dunia 2026 akan menjadi bahan penting bagi persiapan Euro 2028, yang akan digelar bersama oleh Inggris, Skotlandia, Wales, dan Republik Irlandia. "Hal utama bagi kami sekarang adalah mengidentifikasi apa yang perlu diperbaiki lebih dulu, misalnya soal lisensi. Kami butuh kebijakan yang jelas," ucap Roberts. Ia optimistis acaranya sendiri akan menjadi tontonan yang luar biasa.
Namun ia mengingatkan agar tetap waspada terhadap ancaman yang berubah. "Dunia dua tahun ke depan akan berbeda. Kami perlu memahami ancaman dari negara lain, termasuk fakta bahwa suporter beberapa negara tamu jauh lebih bermasalah dibanding di sini. Kami harus punya rencana, mulai dari tidak mengizinkan mereka masuk hingga mengelola mereka dengan proses yang tepat," jelasnya. Setiap kota tuan rumah, tambahnya, harus jelas soal tanggung jawab dan kebijakan lisensi lokal.
Di sisi lain, Roberts justru memuji perilaku suporter Inggris yang bepergian ke Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Data dari Unit Kepolisian Sepak Bola menunjukkan hanya ada 22 'tindakan' polisi yang melibatkan suporter Inggris. Angka ini memang naik dibanding Qatar (nol tindakan) dan Rusia 2018 (tiga tindakan), tetapi jumlah penonton tahun ini diperkirakan jauh melampaui 100.000 orang, dibandingkan 7.000 di Qatar dan 5.000 di Rusia.
"Para suporter yang bepergian ke sana hampir seluruhnya benar-benar membanggakan. Mereka menikmatinya. Saya rasa tak seorang pun akan melupakan momen 'Wonderwall' yang dinyanyikan bersama antara suporter dan pemain," kata Roberts. Pujian khusus tertuju pada laga babak 16 besar Meksiko melawan Inggris di Azteca, di mana terjalin keakraban antara kedua kubu suporter, termasuk banyak fan Meksiko yang mengucapkan selamat dan doa kepada Inggris.
Adapun 22 tindakan polisi itu mencakup pelanggaran ketertiban umum, masuk tanpa izin, penyerangan, calo tiket, mabuk, pengusiran, serta satu kasus pelecehan seksual yang setelah ditinjau tidak sampai pada tahap penuntutan. Sekali lagi, alkohol menjadi faktor pemicu di mayoritas insiden tersebut.





