Kisah Pau Cubarsi: Dari Desa Kecil di Girona Menuju Puncak Piala Dunia
Bimo Setiawan · 22 Juli 2026 pukul 22.00 · Sumber: Detik

Bisakah anak seorang tukang kayu dari desa terpencil mengangkat trofi Piala Dunia? Pau Cubarsi membuktikan bahwa jawabannya adalah ya. Di balik keberhasilan Timnas Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026, tersimpan sederet cerita menyentuh dari para pemainnya, dan salah satu yang paling menginspirasi datang dari sang bek muda ini.
Skuad Spanyol memang penuh kisah menarik. Ada Marc Cucurella yang menjadi ayah dari anak berkebutuhan khusus, Lamine Yamal si bocah yang dulu pernah dimandikan Messi, hingga Rodri yang berhasil bangkit setelah dihajar rentetan cedera. Namun, di antara mereka, kisah Pau Cubarsi punya daya tarik tersendiri.
Meski baru berusia 19 tahun, Cubarsi mendapat kepercayaan penuh dari pelatih Luis de la Fuente untuk mengisi posisi bek tengah. Ia dipasangkan dengan bek gaek Aymeric Laporte yang berusia 32 tahun. Duet ini tampil solid, menjaga pertahanan Spanyol nyaris tanpa cela dengan hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen.
Kehebatan Cubarsi tak berhenti di lini belakang. Ia juga piawai membangun serangan dari bawah dengan catatan akurasi umpan mencapai rata-rata 90 persen. Kualitas komplet itu membawanya meraih penghargaan pemain muda terbaik Piala Dunia 2026.
Dilansir dari The Athletic, sosok Cubarsi tak hanya luar biasa di atas lapangan, tetapi juga di kehidupan pribadinya. Di tengah sorotan panggung dunia, ia tetap menjadi pribadi yang bersahaja. Sejak bergabung dengan Barcelona pada 2024, ia telah mencicipi berbagai gelar domestik, namun gemerlap dunia tak membuatnya lupa diri. Cubarsi masih tinggal bersama sang kakak dan menjalani hidup jauh dari kemewahan.
Lahir di Estanyol, sebuah desa kecil di Girona, Cubarsi dibesarkan oleh orang tua yang berprofesi sebagai tukang kayu. Ia menyerahkan seluruh gajinya untuk kedua orang tuanya dan tak segan turun tangan membantu usaha keluarga. Ketika akhirnya mampu membeli mobil pertama, ia justru memberikan kendaraan baru itu untuk orang tuanya, sementara dirinya cukup memakai mobil keluarga.
Disiplin juga menjadi ciri Cubarsi. Ia menyelesaikan pendidikannya dengan baik meski harus belajar dari pukul tiga sore hingga delapan malam, dan tak pernah terlambat mengumpulkan tugas. Teman-temannya kerap membantu ketika ia absen karena harus bertanding di laga tandang. Bahkan saat liburan tiba, ia lebih memilih pulang ke desa untuk membantu orang tuanya ketimbang bersenang-senang.
Di mata para tetangga, ia tetaplah Cubarsi yang mereka kenal, bukan Cubarsi sang bintang sepak bola. "Ketika saya balik ke desa, satu-satunya tujuan saya adalah untuk berkumpul dengan keluarga dan teman-teman terdekat saya. Rasanya senang dan tenang, sama seperti perasaan ketika saya bermain di lapangan," ungkapnya.
Perjalanan karier Cubarsi masih sangat panjang. Rekan-rekannya di Barcelona pun menilai ia sebagai pribadi yang rendah hati dan tidak neko-neko. Baginya, hidup terasa sederhana: bermain bola saat bekerja, lalu pulang ke desa ketika hari libur tiba.





