Piala Presiden 2026 Bergulir: Panggung Naik Kelas Sepakbola Indonesia
Andika Saputra · 26 Juli 2026 pukul 09.30 · Sumber: Detik

Piala Presiden 2026 resmi menggelinding sejak Sabtu (25/7/2026). Lebih dari sekadar turnamen pramusim biasa, ajang ini digagas untuk mengangkat wajah sepakbola Indonesia di panggung internasional. Dari musim ke musim, kompetisi ini terus dipoles di banyak lini, mulai dari jumlah peserta, nilai hadiah, hingga dampak yang menetes langsung ke insan bola dan masyarakat luas.
Tahun ini pesertanya bertambah menjadi delapan tim, naik dari sebelumnya yang hanya enam. Wakil tuan rumah diisi Persib Bandung, Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, Arema FC, dan PSMS Medan. Sementara tiga tamu dari luar negeri turut meramaikan, yakni Port FC asal Thailand, Tampines Rovers dari Singapura, dan DPMM Malaysia.
Kehadiran trio klub asing bukan sekadar pemanis. Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menyebut mereka berfungsi sebagai batu ukur kemampuan tim-tim Indonesia. Port FC, misalnya, merupakan runner-up Liga Thailand musim lalu, sementara Tampines Rovers finis di posisi kedua Liga Singapura. Keduanya akan diuji melawan kekuatan Indonesia seperti Persib yang menyandang status juara Super League, Persija di peringkat tiga, serta Persebaya yang menempati posisi keempat musim lalu.
Bagi Persib, laga kontra Tampines Rovers menjadi latihan berharga menjelang Liga Champions Asia II, ajang yang juga diikuti klub Singapura tersebut. Sedangkan Persija, Persebaya, dan PSMS berkesempatan menguji diri melawan Port FC yang bakal tampil di Liga Champions Asia Elite 2026/2027.
"Kami ingin memastikan klub-klub Indonesia yang tampil merupakan tim-tim yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan sepak bola Indonesia, baik pada era Perserikatan maupun Liga Indonesia. Ada Persib, Persija, PSMS, Persebaya, dan Arema yang selama ini menjadi kekuatan sepakbola nasional," ujar Erick Thohir.
"Saya ingin melihat apakah klub-klub legendaris Indonesia mampu bersaing secara kompetitif menghadapi Port FC, salah satu klub terbaik di Thailand. Turnamen ini menjadi kesempatan yang baik bagi setiap tim untuk mengukur kemampuan sekaligus mempersiapkan diri menghadapi kompetisi Liga Indonesia maupun ajang internasional," tambahnya.
Lebih dari sekadar uji coba, Piala Presiden 2026 sejalan dengan cita-cita besar sepakbola nasional. Mulai dari memperbaiki citra pascatragedi Kanjuruhan, hingga mengejar impian tampil di Piala Dunia. Aspek teknis penyelenggaraan pun menjadi tolok ukur, seolah menjadi cermin bagaimana kompetisi Tanah Air akan berjalan sepanjang musim.
Antusiasme publik menjadi sinyal positif. Pembukaan di Stadion Si Jalak Harupat nyaris dipadati 24 ribu penonton, bukti bahwa apresiasi terhadap ajang ini masih tinggi. Turnamen ini juga membuka pintu rezeki bagi pelaku UMKM, menciptakan simbiosis antara sepakbola dan denyut ekonomi masyarakat.
"Karena itu kami melibatkan UMKM dan berharap kehadiran suporter dari luar daerah dapat mendorong sektor perhotelan, transportasi, kuliner, dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya. Ada efek berganda yang ingin kami hadirkan," kata Ketua Panitia Pelaksana Piala Presiden 2026, Tsamara Amany.
Tak kalah penting, ajang ini ingin membuktikan bahwa suporter bukanlah sumber kerusuhan. Laga pembuka Persib versus Arema menjadi contoh dua kelompok pendukung yang mampu berdampingan secara sehat. "Bahwa selama semuanya dapat dijaga dengan baik, kualitas pertandingan baik, keamanan baik, penempatan penonton tertata rapi, dan seluruh aspek dipastikan berjalan sesuai rencana, maka ini akan menjadi pertemuan dua kelompok suporter yang positif," jelas Tsamara.
Ketua Steering Committee Piala Presiden 2026, Maruarar Sirait, mengingatkan pentingnya menjaga kepercayaan yang telah kembali diberikan. "FIFA mengingatkan bahwa sepakbola Indonesia pernah memiliki catatan kelam. Karena itu, kepercayaan yang kembali diberikan kepada kita harus dijaga bersama. Operator liga, klub, dan suporter memiliki tanggung jawab yang sama untuk menciptakan pertandingan yang aman, nyaman, dan tertib," ucapnya.
Manfaat langsung juga dirasakan klub peserta. Hadiah bagi sang juara kini melonjak menjadi Rp 6 miliar, modal segar di awal musim. Menariknya, dana turnamen sepenuhnya berasal dari sektor swasta, tanpa menyentuh uang negara. "Saya pikir ini harus jadi model buat pengelolaan sepakbola, supaya industri olahraga kita makin maju. Makanya kita diaudit kan selalu oleh PwC dengan sebaik-baiknya. Dan juga tidak menggunakan uang negara ya, tidak ada dari BUMN, tidak ada dari APBN. Jadi semuanya dari swasta," tegas Maruarar.
Piala Presiden 2026 yang berlangsung hingga 6 Agustus mendatang menjadi potret ideal bagaimana sepakbola Indonesia semestinya dikelola. Manfaat yang menyentuh semua lapisan, dari pemain profesional hingga masyarakat kecil, menjadi kunci agar sepakbola nasional terus melangkah naik kelas.





