LayarSkor
Olahraga

Tebas Serang FIFA Habis-habisan, Desak Infantino Mundur dari Kursi Presiden

Danur Prasetyo · 21 Juli 2026 pukul 07.34 · Sumber: Espn United Kingdom

Tebas Serang FIFA Habis-habisan, Desak Infantino Mundur dari Kursi Presiden

Presiden LaLiga, Javier Tebas, kembali melontarkan kritik keras terhadap FIFA. Kali ini sasarannya adalah wacana memperbesar format Piala Dunia menjadi 64 tim, sebuah ide yang menurutnya hanya akan mempercepat kehancuran industri sepak bola di bawah kepemimpinan Gianni Infantino. Tebas bahkan secara terbuka meminta bos FIFA itu untuk turun dari jabatannya.

Pria berusia 63 tahun tersebut memang dikenal kerap berselisih pandangan dengan Infantino. Dalam wawancara bersama surat kabar Italia La Gazzetta dello Sport yang terbit Selasa, Tebas menegaskan bahwa menambah jumlah tim peserta sama sekali tidak masuk akal. Spanyol sendiri akan menjadi tuan rumah edisi mendatang bersama Portugal dan Maroko, dan muncul spekulasi turnamen bakal melompat dari 48 ke 64 tim.

"Menambah jumlah tim nasional tidak ada gunanya," ujar Tebas. "Industri sepak bola bukan hanya soal Piala Dunia, meski itu memang ajang paling penting. Tapi tidak semua bisa berputar di sekitar Piala Dunia. Kompetisi domestiklah yang menopang olahraga ini."

Tebas menyoroti dampak ekonomi yang lebih luas. Menurutnya, kompetisi nasional menciptakan puluhan ribu lapangan pekerjaan, sementara Piala Dunia hanya berlangsung sekitar 40 hari dan diikuti sebagian kecil pemain. "Kita butuh lebih sedikit tim nasional dan lebih banyak perlindungan bagi sepak bola nasional di semua level. Mereka tidak sadar, mereka mengambil keputusan tanpa tanggung jawab," katanya.

Edisi Piala Dunia di Amerika Utara menjadi yang pertama menampilkan 48 tim. Sebelumnya turnamen ini diikuti 32 negara sejak diperluas dari 24 tim pada edisi 1998. Namun sepanjang gelaran di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, FIFA maupun Infantino kebanjiran kritik dari berbagai sisi.

Keluhan mulai dari jeda hidrasi yang dipaksakan, masalah visa bagi para pengunjung yang datang ke AS, hingga polemik seputar kasus Folarin Balogun. Dalam saga tersebut, Presiden Donald Trump dan pemerintah Amerika turut membantu U.S. Soccer membatalkan hukuman skorsing sang striker.

Meski begitu, Infantino yang berusia 56 tahun diperkirakan akan terpilih kembali untuk periode keempat pada kongres FIFA bulan Maret mendatang. Tebas justru berpendapat sebaliknya. "Menurut saya, ya, dia sebaiknya mundur. Saya rasa masanya sudah berakhir," tegasnya.

"Tapi dia punya dukungan dari sistem, dari federasi-federasi, jadi tidak banyak yang bisa ditambahkan, bukan? Tidak ada kandidat penantang, tidak ada yang mau maju hanya untuk kalah. Ini adalah sistem, dan sistem itu sakit dari akarnya," lanjutnya.

Tebas mengaku selama di Amerika mendengar banyak suara yang tidak sepakat dengan langkah Infantino, tetapi tidak ada yang berani bertindak. "Saya tidak tahu mana yang lebih buruk, diam atau menjadi bagian dari kongkalikong, karena mereka yang diam tahu betul kerusakan yang menimpa sepak bola," ujarnya.

Soal kasus Balogun, ia menyebutnya sebagai persoalan yang sangat serius. "Mereka beruntung karena Belgia menyingkirkan Amerika Serikat di babak 16 besar. Kalau tidak, kasus ini bisa saja terbentuk dan mengancam posisi Infantino. Karena Belgia menang, mereka berhasil mengubur masalah itu. Tapi ini semua hanya puncak gunung es."

Tebas menutup dengan kritik pedas soal jeda hidrasi. "FIFA mengatur segalanya sesuai keinginannya, demi kepentingannya sendiri, jelas bukan demi sepak bola. Jadi kalau mereka butuh jeda 27 menit, ya mereka lakukan. Jeda hidrasi itu bohong. Kami punya itu di LaLiga, tapi hanya saat benar-benar panas. Di sini, stadion di Dallas, Los Angeles, dan Atlanta ber-AC, saya sampai harus memakai sweter di tribun. Itu semua kebohongan, cuma jeda untuk iklan."

Rekomendasi

Berita Bola Lainnya

Semua berita →