Uefa Meradang, Rencana Investasi Swasta Fifa di Piala Dunia Dinilai Lewati Batas
Rendra Mahendra · 28 Juli 2026 pukul 08.36 · Sumber: The Bbc

Ketegangan baru pecah di puncak sepak bola dunia. Uefa, badan pengatur sepak bola Eropa, melontarkan kecaman keras terhadap gagasan Fifa yang ingin membuka pintu bagi investor swasta untuk masuk ke sejumlah kompetisinya, tak terkecuali ajang paling bergengsi, Piala Dunia.
Dalam pernyataannya, Fifa menegaskan niat memperluas pendanaan pengembangan sepak bola hingga menembus angka lebih dari 10 miliar dolar AS (sekitar 7,5 miliar pound). Untuk merealisasikan hal itu, badan pengatur global tersebut berencana mengundang pihak ketiga menanamkan modal lewat sebuah entitas baru.
Kabar ini pertama kali diungkap oleh Financial Times dan The Times. Dalam laporannya, The Times bahkan menyebut skema tersebut berpotensi memberikan keuntungan hingga puluhan juta pound bagi Presiden Fifa, Gianni Infantino.
Melalui pernyataan panjang, Fifa memaparkan bahwa mereka akan mengajak pihak ketiga menanamkan investasi minoritas yang tidak bersifat mengendalikan pada anak perusahaan baru bernama Fifa Forward Enterprise (FFE). Tujuannya untuk menyatukan operasional komersial dan penyelenggaraan acara mereka. Setelah persetujuan didapat, Thrive Eternal diproyeksikan memimpin kelompok investor untuk FFE. Thrive sendiri merupakan firma modal ventura asal Amerika Serikat yang didirikan Joshua Kushner, saudara dari Jared, menantu Presiden AS Donald Trump.
Infantino berdalih bahwa setiap negara semestinya turut menikmati kekayaan yang dihasilkan sepak bola. "Sebagian dunia sepak bola telah mengubah popularitas itu menjadi nilai komersial yang luar biasa. Kami merayakan keberhasilan itu dan ingin melanjutkannya, karena hal itu mengangkat seluruh permainan," ujarnya. "Tugas kami adalah memastikan bagian sepak bola lainnya ikut tumbuh. Fifa hadir untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan dan inklusif di setiap sudut dunia."
Namun, dari Eropa datang penolakan keras. Uefa memandang pengumuman itu sebagai langkah yang terlalu jauh, sekaligus membuka peluang perluasan kompetisi Fifa demi meraup pendapatan, baik dari sisi jumlah maupun frekuensi. Bagi Uefa, hal ini bisa mengancam kompetisi mereka sendiri yang selama ini sangat menguntungkan.
"Ini melewati batas yang seharusnya tidak pernah dilanggar oleh institusi pengatur sepak bola," tegas Uefa. "Uefa menanggapinya dengan sangat serius. Begitu pula seharusnya setiap Asosiasi Sepak Bola Nasional. Begitu pula setiap pemangku kepentingan yang peduli pada masa depan olahraga ini."
Uefa menambahkan, "Jiwa dan tata kelola sepak bola bukanlah aset untuk diperjualbelikan, terlebih tanpa transparansi sama sekali soal siapa yang meraih keuntungan finansial. Tidak seorang pun dari kita adalah pemilik sepak bola. Ini bukan milik Fifa untuk dijual."
Di sisi lain, Fifa menegaskan bahwa mereka akan tetap memegang kendali atas FFE serta memiliki otoritas eksklusif terhadap tata kelola sepak bola, kompetisi, kalender pertandingan internasional, dan seluruh keputusan regulasi maupun olahraga.
Persoalan ini diperkirakan akan menjadi bahan pembahasan hangat dalam pertemuan Dewan Fifa berikutnya pada musim gugur, lalu berlanjut ke sekitar ajang Piala Interkontinental Fifa yang menampilkan juara Liga Champions Paris St-Germain pada Desember mendatang. Usulan tersebut kemungkinan akan diputuskan melalui pemungutan suara oleh seluruh 211 anggota pada Kongres Fifa di Maroko, Maret nanti.





