LayarSkor
Olahraga

UEFA Murka, FIFA Buka Peluang Jual Saham Terkait Piala Dunia ke Investor Swasta

Wira Handoko · 28 Juli 2026 pukul 07.59 · Sumber: Sky Sports

UEFA Murka, FIFA Buka Peluang Jual Saham Terkait Piala Dunia ke Investor Swasta

Ketegangan baru mengguncang dunia sepak bola setelah UEFA melontarkan kritik pedas terhadap langkah FIFA yang berniat menjual sebagian saham komersial terkait Piala Dunia kepada para investor swasta. Reaksi keras ini muncul menyusul pernyataan resmi FIFA pada Selasa lalu yang memaparkan rencana pembentukan perusahaan komersial baru.

Lewat entitas anyar tersebut, FIFA menargetkan pendanaan pengembangan sepak bola yang nilainya bisa melampaui 10 miliar dolar (sekitar 7,5 miliar poundsterling) dalam empat tahun ke depan. Perusahaan yang diberi nama FIFA Forward Enterprise (FFE) itu akan mengonsolidasikan berbagai hak komersial FIFA, mulai dari penyiaran, sponsorship, penjualan tiket, hingga lisensi, sekaligus mengelola operasional turnamen-turnamen resmi FIFA. Namun, rencana ini masih membutuhkan persetujuan dari asosiasi anggota FIFA.

Dalam proposalnya, FIFA berpotensi mengumpulkan dana hingga 4,2 miliar dolar (sekitar 3,1 miliar poundsterling) dari investor eksternal melalui penjualan saham minoritas tanpa hak kendali di FFE. FIFA memperkirakan nilai perusahaan tersebut mencapai sekitar 20 miliar dolar (15 miliar poundsterling).

UEFA yang menolak keras gagasan itu menegaskan bahwa "jiwa dan tata kelola sepak bola bukanlah aset yang bisa diperdagangkan". Mereka menilai langkah ini telah melewati batas yang seharusnya tidak pernah dilanggar oleh lembaga pengelola sepak bola.

"UEFA menanggapi hal ini dengan sangat serius. Begitu pula seharusnya setiap Asosiasi Sepak Bola Nasional," bunyi pernyataan UEFA. "Juga setiap pemangku kepentingan: liga, klub, pemain, suporter, pemerintah, dan siapa pun yang peduli pada masa depan olahraga ini. Jiwa dan tata kelola sepak bola bukanlah aset untuk diperdagangkan, apalagi tanpa transparansi soal siapa yang meraup keuntungan finansial. Tidak satu pun dari kita adalah pemilik sepak bola. Sepak bola tidak dimiliki siapa pun."

Menanggapi berbagai laporan yang beredar, FIFA kemudian mengklarifikasi rincian struktur komersial baru yang mereka usulkan. Seorang juru bicara menyatakan bahwa mereka baru memulai proses konsultasi setelah menerima sebuah proposal yang saat ini masih dikaji.

FIFA mengonfirmasi kepada Sky Sports News bahwa JP Morgan bertindak sebagai penasihat keuangan dalam proyek ini dan akan terus mendukung proses analisis ke depan. Thrive Capital, yang dipimpin oleh Josh Kushner, diperkirakan akan mengetuai kelompok investor yang diusulkan. FIFA menambahkan bahwa Jared Kushner bukan bagian dari investor.

Badan pengelola sepak bola dunia itu juga menekankan bahwa investor luar hanya akan memegang saham minoritas, dan investasi tersebut ditanamkan pada anak perusahaan FIFA, bukan FIFA itu sendiri. Presiden serta administrasi FIFA disebut memiliki kewajiban mengawasi pengembangan proyek dan menjaga kendali sepanjang prosesnya.

FIFA turut membantah kabar bahwa stafnya telah menandatangani perjanjian kerahasiaan (NDA), menyebut informasi tersebut "tidak akurat". Mereka menegaskan keterbukaan untuk mempertimbangkan proyek inovatif yang dapat mendorong pengembangan sepak bola di seluruh dunia.

Presiden FIFA Gianni Infantino pada 18 Juli lalu menyampaikan kepada seluruh 211 asosiasi anggota bahwa prioritas setelah kesuksesan Piala Dunia 2026 adalah "melepaskan potensi dan peluang komersial yang dimiliki FIFA". Setiap proposal tetap harus disetujui melalui struktur demokratis FIFA, di mana asosiasi anggota dan Dewan FIFA menjadi satu-satunya pihak pengambil keputusan.

FIFA juga menepis spekulasi bahwa Infantino bakal menjadi chief executive entitas baru tersebut ketika masa jabatan terakhirnya sebagai presiden berakhir, dengan menyebut hal itu "tidak pernah dibahas". Meski begitu, FIFA menyatakan bahwa presiden dan administrasi tetap perlu memegang peran utama demi memastikan kendali FIFA atas anak perusahaan sesuai statuta dan regulasi.

FIFA menegaskan pihaknya akan tetap memegang kendali penuh atas tata kelola sepak bola, kompetisi, kalender pertandingan internasional, serta seluruh keputusan olahraga dan regulasi. Dana tambahan tersebut akan memungkinkan FIFA meningkatkan pembayaran kepada 211 asosiasi anggotanya melalui program FIFA Forward, dari anggaran saat ini sebesar 8 juta dolar menjadi 20 juta dolar per asosiasi untuk siklus 2027-2030. Selain itu, asosiasi anggota juga bisa mengakses pendanaan tambahan hingga 20 juta dolar untuk proyek besar melalui program baru bernama FIFA Fast Forward.

Infantino menyebut proposal ini akan membantu "mendemokratisasi sepak bola di seluruh dunia" serta memastikan lebih banyak keuntungan komersial diinvestasikan kembali ke proyek pengembangan global. Rencana ini membutuhkan dukungan mayoritas asosiasi anggota FIFA serta persetujuan Dewan FIFA sebelum bisa diberlakukan.

"Sepak bola adalah olahraga paling populer di dunia dan mesin luar biasa bagi pembangunan manusia serta sosial," ujar Infantino. "Sebagian bagian dari olahraga ini telah mengubah popularitas tersebut menjadi nilai komersial yang menakjubkan, dan kami merayakan kesuksesan itu serta ingin melanjutkannya, karena hal itu mengangkat seluruh permainan. Tugas kami adalah memastikan sepak bola lainnya ikut tumbuh bersama."

Infantino menambahkan bahwa setiap asosiasi anggota, apa pun ukuran, sumber daya, atau letak geografisnya, harus memiliki suara dan kesempatan untuk menentukan arahnya sendiri. "Kami berniat berinvestasi besar bahkan di bagian terkecil atau terpencil dunia sepak bola, tempat-tempat yang terlalu sering diabaikan. Sepak bola telah menjadi permainan yang benar-benar global, sehingga manfaatnya harus dirasakan secara global."

Sebagai catatan, FIFA merupakan organisasi nirlaba yang dimiliki oleh 211 asosiasi anggotanya. Berstatus sebagai asosiasi dari asosiasi, FIFA menikmati status bebas pajak di Swiss, tempat markasnya berada. Pendapatan FIFA untuk siklus 2022-2026 diperkirakan mencapai 15 miliar dolar, yang sebagian besar berasal dari hak siar televisi, sponsorship, serta penjualan tiket dan hospitality dari Piala Dunia pria musim panas ini.

Rekomendasi

Berita Bola Lainnya

Semua berita →