LayarSkor
Utama

Ricuh di MetLife Usai Kalah dari Spanyol, Argentina Terancam Sanksi FIFA

Gilang Mahendra · 22 Juli 2026 pukul 03.17 · Sumber: Detik

Ricuh di MetLife Usai Kalah dari Spanyol, Argentina Terancam Sanksi FIFA

Pesta juara Spanyol di Stadion MetLife berubah tegang. Alih-alih menerima kekalahan dengan tenang, sejumlah pemain dan ofisial Argentina justru terlibat keributan dengan skuad Spanyol yang tengah merayakan gelar Piala Dunia. FIFA pun bergerak cepat: Komite Disiplin resmi menunjuk seorang jaksa disiplin dan etik untuk mengusut apa yang sesungguhnya terjadi setelah wasit meniup peluit panjang.

Konsekuensinya bisa serius. Pemain maupun anggota staf pelatih yang terbukti terlibat berpotensi terkena skorsing, sementara Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) berpeluang dijatuhi denda. Insiden ini menyusul kekalahan tipis 0-1 dari Spanyol pada Senin (20/07) dini hari WIB, di mana Nahuel Molina, Leandro Paredes, Thiago Almada, hingga asisten pelatih Roberto Ayala tampak berada di pusaran keributan.

Sempat terjadi kekeliruan dalam sistem informasi komentator FIFA yang melaporkan Paredes menerima kartu merah dari wasit Slavko Vincic akibat mendorong leher Eric Garcia. Namun catatan itu belakangan dihapus. FIFA menegaskan kepada BBC Sport bahwa tidak ada hukuman langsung yang dijatuhkan saat kejadian berlangsung. Argentina sendiri sudah lebih dulu bermain dengan sepuluh orang setelah Enzo Fernandez terkena kartu kuning kedua di perpanjangan waktu babak kedua.

Kronologi keributan bermula ketika peluit panjang berbunyi. Sejumlah pemain Argentina, termasuk Lionel Messi, langsung terjatuh lesu ke rumput, sebagian lagi hanya mematung menyaksikan para pemain Spanyol berhamburan merayakan kemenangan. Rodri, yang sudah ditarik keluar di perpanjangan waktu, berlari dari bangku cadangan untuk menyatu dengan rekan-rekannya. Saat melintas dekat Molina, gelandang Manchester City itu justru dipukul di bagian lengan atau perutnya oleh sang bek Argentina.

Situasi memanas dengan cepat. Rodri menghampiri Molina, tetapi pemain Argentina itu malah maju dengan sikap menantang. Eric Garcia datang membela rekan setimnya, dan di titik inilah Paredes ikut masuk sembari menusukkan jari ke leher Garcia. Gavi yang mencoba melerai justru dijatuhkan Thiago Almada, lalu kembali didorong Paredes hingga terjerembab. Roberto Ayala pun terlihat mencengkeram leher Garcia sebelum melayangkan pukulan ke arah Dani Olmo.

Sorotan tajam datang dari para pundit. "Paredes melepaskan dua atau tiga pukulan ke wajah seseorang. Dia benar-benar menyerang mereka. Tidak ada tempat untuk tindakan seperti itu di sepak bola," ujar Alan Shearer di BBC One. Ia menambahkan bahwa meski kekalahan menyakitkan, ada cara terhormat untuk menerimanya. Mantan kiper Inggris Joe Hart menyebut perilaku tersebut "menjijikkan" dan tanpa alasan yang bisa dibenarkan.

Di sisi lain, pelatih Argentina Lionel Scaloni—yang sempat berusaha menenangkan situasi—cenderung meredakan bobot insiden. "Kami sportif ketika menang, dan harus sportif pula ketika kalah. Hari ini kami menunjukkan tahu cara menerima kekalahan. Kami kalah dan menerimanya, tapi itu tidak berarti kami melupakan semua kerja keras untuk sampai ke sini," katanya.

Soal potensi hukuman, Komite Disiplin FIFA punya banyak pilihan. Penunjukan jaksa disiplin membuka penyelidikan mendalam, tidak sebatas dugaan tindak kekerasan tetapi juga pelanggaran lain. Pasal 13 Kode Disiplin FIFA mengatur perilaku ofensif dan prinsip fair play; tindakan para pemain bisa dinilai melanggar norma dasar perilaku serta mencemarkan nama baik sepak bola dan FIFA. Faktor pemberat maupun peringan akan dipertimbangkan, dan FIFA berwenang menjatuhkan larangan beraktivitas yang berlaku global.

Preseden hukuman berat bukan hal baru. Pada 2023, mantan Presiden Federasi Sepak Bola Spanyol Luis Rubiales dilarang beraktivitas di sepak bola selama tiga tahun setelah mencium Jenni Hermoso di final Piala Dunia Putri, dan bandingnya ditolak. Di Piala Dunia 2014, penyerang Uruguay Luis Suarez diskors empat bulan usai menggigit Giorgio Chiellini—sanksi yang sempat mengancam sembilan laga pembuka Liga Primer, sebelum ia hijrah ke Barcelona. Meski begitu, kecil kemungkinan Almada, Ayala, Molina, maupun Paredes menerima larangan selama itu.

AFA sebenarnya punya rekam jejak persoalan perilaku. Seusai final Piala Dunia 2022 melawan Prancis, mereka didakwa terkait perilaku ofensif; Emiliano Martinez membuat gestur vulgar dengan trofi Kiper Terbaik dan mengejek Kylian Mbappe. Argentina didenda 18.300 pound (sekitar Rp400 juta), tanpa hukuman individu. Usai Copa America 2024, Enzo Fernandez meminta maaf atas video berisi nyanyian yang disebut FFF "rasis dan diskriminatif". Martinez sendiri sempat diganjar larangan dua laga pada 2024 karena perilaku ofensif di kualifikasi melawan Chile dan Kolombia.

Masalah lain menanti. Dalam turnamen ini, AFA juga terancam denda usai para pemain membentangkan spanduk "Las Malvinas son Argentinas" seusai kemenangan atas Inggris di semifinal. Pada 2014, AFA pernah didenda 20.000 pound (sekitar Rp440 juta) untuk spanduk serupa jelang laga persahabatan melawan Slovenia. FIFA bisa menyasar pemain yang memegang spanduk itu, yakni Cristian Romero, Giovani Lo Celso, dan Lisandro Martinez. Sebagai pembanding, kapten Spanyol Alvaro Morata dan Rodri sempat diganjar larangan satu laga oleh UEFA karena meneriakkan "Gibraltar milik Spanyol" saat merayakan gelar Euro 2024.

Belum ada kepastian kapan penyelidikan FIFA rampung. Sebagai gambaran, kasus dugaan pelecehan rasial Gianluca Prestianni terhadap Vinicius Jr yang mulai diselidiki UEFA pada 18 Februari baru berujung hukuman enam laga—tiga di antaranya ditangguhkan dua tahun—pada 24 April.

Rekomendasi

Berita Bola Lainnya

Semua berita →